Di lingkungan dekat Anda, di kantor, di perumahan, di pergaulan arisan, di pertemuan trah, mungkin Anda pernah melihat orang yang datang dengan barang dagangan berupa keperluan para ibu, misalnya busana muslim, busana anak, dan lain-lain. Mereka tak malu dan tak sungkan menawarkan dagangan ke Anda. Orang-orang seperti mereka itulah yang sebetulnya memiliki jiwa kewirausahaan. Orang yang bermental wirausaha biasanya tajam dalam mencium peluang bisnis di sekitarnya, dan tak malu untuk “doing business” apa saja.
Namun ingat, penciuman yang tajam pada peluang bisnis dan perasaan tak malu berdagang hanyalah dua dari sejumlah prasyarat untuk menjadi seorang pewirausaha yang berhasil. Dua prasyarat itu jika tak dilengkapi dengan prasyarat yang lain, antara lain kesabaran, keberlanjutan, perencanaan, dan manajemen, bisa berujung tak jelas. Banyak pewirausaha di lingkungan kantor yang mulai dari dagangan kecil-kecilan dan setelah sekian tahun kemudian tetap menjadi pewirausaha kecil-kecilan. Mengapa? Ya, karena tak sabar, tak ada keberlanjutan bisnis, yang karena itu tanpa perencanaan dan apalagi manajemen.
Kepekaan untuk mencium peluang bisnis untuk skala usaha yang kecil-kecilan mungkin bisa diperoleh melalui feeling, intuisi atau kebiasaan saja. Misalnya, seseorang berniat membuka usaha bahan material untuk pembangunan gedung. Niatnya itu didasarkan pada fakta bahwa di sekitar rumahnya berdiri sejumlah perumahan baru – yang diasumsikan bakalan membutuhkan bahan material tambahan baik untuk renovasi maupun pembangunan rumah baru. Tak mengherankan bila banyak pengusaha keturunan Cina yang membuka usaha di bidang ini di sekitar perumahan-perumahan, karena memang jenis usaha itu jelas calon pembelinya.
Namun sebetulnya setiap calon pewirausaha, kalau ingin sukses, seharusnya mendasarkan tindakannya pada survei. Bahkan usaha material bangunan seperti yang disebut di atas dilakukan juga berdasarkan survei, walau pun surveinya dalam bentuk sederhana, misalnya pengalaman bisnis sejenis di tempat-tempat lain. Atau misalnya dengan menghitung dugaan asumsi pasar yang mungkin tercipta dari jumlah kepala keluarga yang bakal menghuni perumahan dan kelas ekonomi mereka. Nah aspek-aspek ini kan termasuk survei.
Survei lain juga bisa dilakukan dengan “mendompleng” sebuah bisnis yang sukses. Anda lihat, dulu tahun 1980-an, kebanyakan orang tak membayangkan bisnis air minum kemasan. Namun setelah Aqua berhasil menjalankan bisnis air iminum kemasam dalam skala massal, lihat sekarang berapa jumlah perusahaan lain yang menjual air minuman kemasan. Sekarang ini air minum kemasan merek apa saja, asal seukuran gelas seharga Rp 500,- dibeli orang.
Namun tak semua survei “mondempleng” bisnis ini bisa berhasil. Untuk bisnis air minum kemasan mungkin ya, karena produknya tak dituntut memiliki kelebihan spesifikasi selain yang penting hiegenis, tak bikin perut sakit. Namun untuk bisnis lain, bisnis kreatif misalnya media, pastilah survei semacam tak memadai. Banyak media yang berakhir dengan gulung tikar, karena tak memulai bisnisnya dengan survei yang mencukupi. Contohnya, media-media yang bermisi dakwah Islam rata-rata rontok di tengah jalan.
Sebetulnya survei itu bahasa akademis untuk praktek bisnis keseharian: mengenali kebutuhan pembeli dan potensi jumlahnya. Kadang, gagasan akan kebutuhan pembeli itu muncul dari pengalaman pribadi. Misalnya, Anda masuk ke plasa besar, lalu ingin membeli air mineral sebotol, tapi kesulitan, dan hanya bisa dibeli di hipermarket dengan harus mengantre. Beli air sebotol mesti antre? Capek deh.. Nah lalu tercetuslah gagasan untuk membikin satu kios kecil yang menjual softdrink di dalam plasa. Pastilah banyak orang yang mengalami kebutuhan yang serupa. Why not?
Dalam skala kecil lagi-lagi survei itu masih bisa dilakukan dengan berbagai cara sederhana: intuitif, feeling, perbandingan, atau kalkulasi sederhana. Tapi untuk bisnis skala besar dengan modal minimal Rp 500 juta, survei mencukupi adalah suatu keniscayaan. Di bidang media, misalnya, Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) selalu mengumumkan hasil survei terhadap media setiap tahun. Berapa jumlah tiras mereka, berapa kue iklan yang tersedia, jenis produk apa saja yang banyak belanja iklan. Semua itu menunjukkan pentingnya survei. *
Boks:
Kata Mereka
Langkah awal akan menentukan apakah kita menuju ke suatu tempat atau hanya berputar-putar tanpa tujuan.
— Charles M. Schwab, Pemimpin United States Steel Company
Ide adalah bahan dasar untuk meraih sukses.
— B.C. Forbes, Pendiri majalah Forbes
Apabila engkau tahu bagaimana caranya agar engkau dibutuhkan, niscaya engkau tidak akan pernah dipecat.
— David Ogilvy, tokoh periklananan
Rahasia sukses dalam bisnis adalah bagaimana caranya agar kita menjadi satu-satunya orang yang tahu tentang sebuah informasi berharga.
— Aristotle Onassis, miliarder perkapalan
Uang akan muncul di tempat orang-orang yang mencarinya.
— Rupert Murdoch, bos News Corporation
Produk yang sukses hanya membutuhkan keunggulan 5% saja dibandingkan produk-produk yang sudah ada.
— Brian Tracey, penulis
Sumber: Buku Advis Miliarder: Cara Ringan Mencerahkan Pikiran, karya Tama Sinulingga, penerbit MLC, 2004.
