Survei Sebelum Berwirausaha

Di lingkungan dekat Anda, di kantor, di perumahan, di pergaulan arisan, di pertemuan trah, mungkin Anda pernah melihat orang yang datang dengan barang dagangan berupa keperluan para ibu, misalnya busana muslim, busana anak, dan lain-lain. Mereka tak malu dan tak sungkan menawarkan dagangan ke Anda. Orang-orang seperti mereka itulah yang sebetulnya memiliki jiwa kewirausahaan. Orang yang bermental wirausaha biasanya tajam dalam mencium peluang bisnis di sekitarnya, dan tak malu untuk “doing business” apa saja.

Namun ingat, penciuman yang tajam pada peluang bisnis dan perasaan tak malu berdagang hanyalah dua dari sejumlah prasyarat untuk menjadi seorang pewirausaha yang berhasil. Dua prasyarat itu jika tak dilengkapi dengan prasyarat yang lain, antara lain kesabaran, keberlanjutan, perencanaan, dan manajemen, bisa berujung tak jelas. Banyak pewirausaha di lingkungan kantor yang mulai dari dagangan kecil-kecilan dan setelah sekian tahun kemudian tetap menjadi pewirausaha kecil-kecilan. Mengapa? Ya, karena tak sabar, tak ada keberlanjutan bisnis, yang karena itu tanpa perencanaan dan apalagi manajemen.

Kepekaan untuk mencium peluang bisnis untuk skala usaha yang kecil-kecilan mungkin bisa diperoleh melalui feeling, intuisi atau kebiasaan saja. Misalnya, seseorang berniat membuka usaha bahan material untuk pembangunan gedung. Niatnya itu didasarkan pada fakta bahwa di sekitar rumahnya berdiri sejumlah perumahan baru – yang diasumsikan bakalan membutuhkan bahan material tambahan baik untuk renovasi maupun pembangunan rumah baru. Tak mengherankan bila banyak pengusaha keturunan Cina yang membuka usaha di bidang ini di sekitar perumahan-perumahan, karena memang jenis usaha itu jelas calon pembelinya.

Namun sebetulnya setiap calon pewirausaha, kalau ingin sukses, seharusnya mendasarkan tindakannya pada survei. Bahkan usaha material bangunan seperti yang disebut di atas dilakukan juga berdasarkan survei, walau pun surveinya dalam bentuk sederhana, misalnya pengalaman bisnis sejenis di tempat-tempat lain. Atau misalnya dengan menghitung dugaan asumsi pasar yang mungkin tercipta dari jumlah kepala keluarga yang bakal menghuni perumahan dan kelas ekonomi mereka. Nah aspek-aspek ini kan termasuk survei.

Survei lain juga bisa dilakukan dengan “mendompleng” sebuah bisnis yang sukses. Anda lihat, dulu tahun 1980-an, kebanyakan orang tak membayangkan bisnis air minum kemasan. Namun setelah Aqua berhasil menjalankan bisnis air iminum kemasam dalam skala massal, lihat sekarang berapa jumlah perusahaan lain yang menjual air minuman kemasan. Sekarang ini air minum kemasan merek apa saja, asal seukuran gelas seharga Rp 500,- dibeli orang.

Namun tak semua survei “mondempleng” bisnis ini bisa berhasil. Untuk bisnis air minum kemasan mungkin ya, karena produknya tak dituntut memiliki kelebihan spesifikasi selain yang penting hiegenis, tak bikin perut sakit. Namun untuk bisnis lain, bisnis kreatif misalnya media, pastilah survei semacam tak memadai. Banyak media yang berakhir dengan gulung tikar, karena tak memulai bisnisnya dengan survei yang mencukupi. Contohnya, media-media yang bermisi dakwah Islam rata-rata rontok di tengah jalan.

Sebetulnya survei itu bahasa akademis untuk praktek bisnis keseharian: mengenali kebutuhan pembeli dan potensi jumlahnya. Kadang, gagasan akan kebutuhan pembeli itu muncul dari pengalaman pribadi. Misalnya, Anda masuk ke plasa besar, lalu ingin membeli air mineral sebotol, tapi kesulitan, dan hanya bisa dibeli di hipermarket dengan harus mengantre. Beli air sebotol mesti antre? Capek deh.. Nah lalu tercetuslah gagasan untuk membikin satu kios kecil yang menjual softdrink di dalam plasa. Pastilah banyak orang yang mengalami kebutuhan yang serupa. Why not?

Dalam skala kecil lagi-lagi survei itu masih bisa dilakukan dengan berbagai cara sederhana: intuitif, feeling, perbandingan, atau kalkulasi sederhana. Tapi untuk bisnis skala besar dengan modal minimal Rp 500 juta, survei mencukupi adalah suatu keniscayaan. Di bidang media, misalnya, Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) selalu mengumumkan hasil survei terhadap media setiap tahun. Berapa jumlah tiras mereka, berapa kue iklan yang tersedia, jenis produk apa saja yang banyak belanja iklan. Semua itu menunjukkan pentingnya survei. *

Boks:

Kata Mereka

Langkah awal akan menentukan apakah kita menuju ke suatu tempat atau hanya berputar-putar tanpa tujuan.

— Charles M. Schwab, Pemimpin United States Steel Company

Ide adalah bahan dasar untuk meraih sukses.

— B.C. Forbes, Pendiri majalah Forbes

Apabila engkau tahu bagaimana caranya agar engkau dibutuhkan, niscaya engkau tidak akan pernah dipecat.

— David Ogilvy, tokoh periklananan

Rahasia sukses dalam bisnis adalah bagaimana caranya agar kita menjadi satu-satunya orang yang tahu tentang sebuah informasi berharga.

— Aristotle Onassis, miliarder perkapalan

Uang akan muncul di tempat orang-orang yang mencarinya.

— Rupert Murdoch, bos News Corporation

Produk yang sukses hanya membutuhkan keunggulan 5% saja dibandingkan produk-produk yang sudah ada.

— Brian Tracey, penulis

Sumber: Buku Advis Miliarder: Cara Ringan Mencerahkan Pikiran, karya Tama Sinulingga, penerbit MLC, 2004.

Diterbitkan di: on 16 Februari 2009 at 11:33  Komentar (1)  
Tags:

Nyanyi Sunyi Jurnalisme Perdamaian

(Artikel ini sumbangan blog: arahguru.wordpress.com)
Media massa di Indonesia pasca reformasi memasuki tahapan baru sebagai pers bebas, salah satu prasyarat untuk menjadi media yang profesional. Media massa di masa Orde Baru mengalami kendala untuk mewujudkan diri sebagai media yang profesional, karena salah satu syarat dasarnya belum terpenuhi, yaitu kebebasan untuk memperoleh informasi dan mewartakannya.

Kondisi di mana media berada di bawah kaki otoriterianisme kekuasaan, melemahkan media secara kuantitatif dan kualitatif. Pada masa Orde Baru, jumlah media massa masih bisa dihitung dengan jari, namun setelah reformasi 1998 seiring dengan lahirnya pemerintahan baru yang demokratis yang membebaskan penerbitan media, jumlah media langsung menggelembung. Namun sayangnya, kemajuan secara kuantitatif itu tak serta merta dibarengi dengan kemajuan kualitatif.

Bahkan banyak media yang menjadi penumpang gelap reformasi dan menyalahgunakan media. Mereka yang berselera rendah ikut-ikutan menerbitkan media yang menyajikan pornografi ringan sampai sedang. Banyak tabloid bergambar wanita cantik dengan busana setengah terbuka yang dijual secara bebas di tempat umum – yang memungkinkan anak-anak mengaksesnya.

Mereka yang beragama tetapi tak memiliki perspektif pluralisme menerbitkan media-media yang berisikan wacana keagamaan yang “mewartakan kebencian”. Media semacam ini ternyata pernah laku keras dan menduduki peringkat keterbacaan tinggi, bahkan lebih tinggi dari media seperti majalah Tempo. Media agama dari kalangan garis keras ini bisa dikategorikan pembonceng gelap kereta reformasi. Soalnya, mereka di masa Orde Baru tak pernah menampakkan batang hidungnya untuk berjuang dalam menciptakan pers bebas. Tapi begitu reformasi sukses, mereka bikin majalah yang bebas kebablasan.

Masih krisis

Pasca reformasi hingga sekarang, Indonesia masih mengalami krisis ekonomi yang mengakibatkan krisis multi dimensi. Kondisi itu juga menerpa dan mempengaruhi perkembangan media. Jumlah media memang banyak, tapi hanya sedikit yang sehat. Menurut laporan Aliansi Jurnalis Independen dua tahun yang lalu, di Indonesia hanya ada tiga media yang bisa dinilai sehat. Kriteria sehat yang dimaksud, mampu menggaji wartawannya dengan layak. Standar kelayakannya berapa, tak perlu dibahas di sini.

Kesejahteraan wartawan adalah salah satu prasyarat untuk membangun media yang profesional. Sekarang media di Indonesia masih berada dalam tahap membangun media yang profesional ini. Kebanyakan media masih berkutat untuk mampu menghidupi dirinya sendiri dan karyawannya. Mereka yang masih bisa bernafas termasuk beruntung, maklum karena gaji bulanan kalah kencang larinya dengan argo inflasi dan harga kebutuhan pokok.

Krisis ekonomi itu juga berpengaruh pada atmosfer kompetisi antar media. Masing-masing media tentu saja berpikir sebagai mesin industri. Dalam kacamata industri, pasar adalah segalanya. Pasar adalah raja yang selalu diintip seleranya. Banyak media yang menjadi budak pasar, dan hanya sedikit yang bisa mengkompromikan antara tuntutan pasar dan mempertahankan idealisme. Dan dari yang sedikit ini, mereka kadang-kadang tergelincir untuk bertindak tidak profesional, akibat manajemen yang buruk. Manajemen yang buruk biasanya akibat dari tipisnya dompet. Lagi-lagi krisis ekonomi penyebabnya.

Apa hubungan antara latar ekonomi dan “kebatinan” media tersebut dengan jurnalisme perdamaian? Tentu saja antara keduanya sangat berhubungan. Profesionalisme media — yang telah menguasai masalah ekonomi dan manajemen yang buruk sebagai akibat krisis ekonomi — menurut saya prasyarat untuk merambah ke jurnalisme perdamaian. Hanya media profesionallah yang mampu mengembangkan jurnalisme perdamaian.

Bagaimana tidak. Jurnalisme perdamaian — yang menuntut produk berita dari wilayah konflik atau perang tapi tetap berpihak pada kebenaran dan kemanusiaan — niscaya membutuhkan modal yang lebih bagi wartawannya. Modal yang lebih itu antara lain wawasan, kematangan pribadi, kesehatan yang prima, ketekunan dan kegigihan untuk memperoleh informasi yang berimbang dari banyak sumber dan lain-lain. Jadi, secara “biaya”, jurnalisme perdamaian tentu lebih mahal. Jurnalisme yang mahal ini hanya bisa diapresiasi oleh media yang profesional.

Secara paradigma, jurnalisme perdamaian hanya dilakukan oleh media-media yang berpikir “beyond” jurnalisme klasik. Dalam jurnalisme klasik, tugas wartawan adalah “melaporkan fakta apa adanya.” Fungsi media hanya menjadi cermin realitas. Bagi para pendukung jurnalisme perdamaian, pemaparan fakta-fakta saja tak mencukupi. Fakta-fakta itu membutuhkan cara pandang yang jernih (eyes bird view) sebelum disampaikan ke publik. Cara pandang yang jernih itu dihasilkan dari terkumpulnya data-data yang akurat dan memadai menyangkut akar konflik.

Dalam buku Jurnalisme Damai, Bagaimana Melakukannya karya Annabel McGoldrick dan Jake Lynch (Lembaga Studi Pers dan Pembangunan, 2002), jurnalisme damai – demikian istilah buku ini – didefinisikan secara umum: melaporkan suatu kejadian dengan bingkai (frame) yang lebih luas, yang lebih berimbang dan lebih akurat, yang didasarkan pada informasi tentang konflik dan perubahan-perubahan yang terjadi.

Sejarah

Adalah Johan Galtung, profesor studi perdamaian, yang pertama kali menggunakan istilah jurnalisme damai pada 1970-an. Galtung mencermati banyaknya jurnalisme perang yang mendasarkan diri pada asumsi yang sama seperti halnya wartawan meliput masalah olahraga. Yang ada cuma fokus tentang “kemenangan penting” dalam sebuah “permainan menang-kalah” antar dua belah pihak.

Johan Galtung kemudian mengusulkan agar jurnalisme damai lebih mengikuti contoh dalam liputan masalah kesehatan. Seorang wartawan kesehatan akan menjelaskan perjuangan yang diderita seorang pasien melawan sel-sel kanker yang perlahan-lahan menggerogoti tubuhnya. Wartawan ini akan menjelaskan kepada pembacanya tentang penyebab terjadinya kanker, termasuk gaya hidupnya, lingkungan sekitarnya, faktor genetik dan lain-lain – dan memberikan gambaran tentang kemungkinan penyembuhan penyakit tersebut dan hal-hal pencegahan yang bisa dilakukan sebelumnya.

Dari embrio Johan Galtung ini berkembang berbagai lembaga dan kegiatan yang mengembangkan jurnalisme perdamaian. Bahkan Universitas Sydney mulai 2002 membuka program master untuk bidang media perdamaian. Di Indonesia, menurut Rusdi Marpaung, direktur eksekutif Lembaga Studi Pers dan Pembangunan, jurnalisme perdamaian diperkenalkan melalui diskusi, lokakarya dan penerbitan buku sejak tahun 2000-an setelah banyak konflik lokal bernuansa agama muncul di Poso.

Harus diakui banyak media di Indonesia yang gagap melaporkan peristiwa konflik berbau agama seperti yang terjadi di Maluku sejak 1999. Maklum, konflik massif dan menjatuhkan banyak korban itu baru dialami Indonesia pasca reformasi. Di masa Orde Baru, konflik berbau agama semacam bisa diredam oleh militer di bawah suasana politik otoritarian. Ketika cengkeraman Orde Baru itu lepas, lepas juga konflik horisontal di masyarakat yang selama ini dipendam di bawah tanah. *

Boks:

Cara Menjadi Wartawan

Menjadi wartawan sekarang ini menjadi salah satu pilihan masa depan profesi para mahasiswa. Mereka yang ingin bergelut di media biasanya memulai pelatihannya dari media kampus. Memang faktanya banyak mantan pengurus media kampus yang kemudian menjadi wartawan profesional.

Perusahaan media besar saat ini rata-rata menjaring calon reporter melalui seleksi resmi, berupa ujian tulis dan wawancara. Pendaftaran dibuka kepada publik melalui iklan di media. Syarat-syarat pendaftaran juga dicantumkan, biasanya menyangkut latar pendidikan yang minimal sarjana strata 1, usia muda, mampu berbahasa Inggris dan lain-lain. Pengumuman rekrutmen ini biasanya diiklankan setiap tahun sekali.

Media-media besar tertentu tak mensyaratkan pendaftar dengan tambahan pengalaman kerja. Banyak yang justru ingin memperoleh sarjana yang masih gress, kinyis-kinyis, alias fresh graduate. Mungkin karena mereka berndapat lebih mudah mendidik sarjana gress untuk menjadi wartawan, daripada mendidik mereka yang pernah “tercemar” oleh kultur kerja dari media lain. Tapi ada juga media yang lebih suka memperkerjakan reporter yang sudah punya pengalaman kerja. Mungkin mereka berpikir cara itu lebih efisien dan efektif, karena ongkos pendidikan wartawan kan mahal.

Adakah cara lain untuk meniti karir wartawan? Mungkin ada sebagian media yang merekrut calon reporter malalui cara magang. Sembari Anda menyelesaikan skripsi, Anda sudah membantu kerja reporter tetap dari sebuah media. Setelah Anda terbukti mampu menjadi wartawan, biasanya setelah tiga bulan, barulah Anda ditawari untuk mengikuti tes masuk, atau kalau beruntung, Anda bisa langsung direkrut. Hanya media progresif yang melakukan cara ini.

Apa yang harus dipersiapkan sebelum tes masuk? Di antara banyak materi tes, yang paling perlu Anda perhatikan adalah tes kemampuan berbahasa Inggris. Ikutlah TOEFL (Test of English as a Foreign Language), tes kemampuan berbahasa Inggris yang diselenggarakan lembaga ETS (Educational Testing Service) di Amerika Serikat. Usahakan mencapai nilai minimal 450. Materi tes lain yang perlu diperhatikan, tes psikologi. Ini tes kecerdasan IQ. Ini tak bisa disiapkan dalam jangka pendek. Yang bisa dilakukan persiapan fisik dan mental saja. Makan dan istirahat secukupnya sebelum tes. Siapa tertarik? *

Diterbitkan di: on 16 Februari 2009 at 10:31  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags:

Nilai Bisnis Kaset Jadul

Usaha penjualan kaset jaman dahulu (jadul) – lebih tepat disebut kaset rekaman jadul — sekarang ini mungkin masih dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang. Maklum, kaset jadul bisa diartikan sebagai kaset bekas saja. Sebagai kaset bekas, ya paling banter dianggap sebagai barang bekas. Padahal usaha penjualan kaset rekaman jadul sejatinya bisa bernilai “taking profit while reserving cultural heritage”, usaha yang menghasilkan pendapat sembari bernilai melestarikan warisan budaya.

Upaya pelestarian warisan budaya itu – terutama penyimpanan musik rekaman dan pendokumentasiannya – salah satunya dirintis oleh Komunitas Pecinta Musik Indonesia (KPMI) yang berdiri di Jakarta sejak 18 Desemebr 2005. Anggota komunitas ini antara lain Riza Sihbudi (pengamat politik Timur Tengah), Denny Sakrie (pengamat musik), Budiarto Shambazy (wartawan Kompas), dan lain-lain. Mereka tentu saja membeli kaset-kaset lama dan piringan hitam dari para pedagang kaset jadul. Di situlah sebenarnya peran pedagang kaset jadul yang tak ternilai.

Bisnis kaset jadul sebetulnya sudah berlangsung sejak lama. Paling tidak sejak tahun 1980-an, para penjual kaset jadul muncul di gang sebelah utara Pasar Beringharjo Yogyakarta, jalan Surabaya Jakarta Pusat, Pasar Taman Puring Jakarta selatan. Para penjual kaset jadul itu umumnya berada di tengah-tengah para penjual barang-barang bekas, atau barang-barang antik. Beberapa tahun terakhir ini pasar penjualan kaset jadul ini semakin menggairahkan saja. Lihat saja kios Bang Omen dan kawan-kawan di Pasar Taman Puring Jakarta selatan, kios Twins di lantai 1 Blok M Mall — dekat pintu gerbang bekas Golden Truly — Jakarta selatan, Bang Udin di jalan Surabaya – untuk menyebut beberapa penjual kaset jadul yang populer di kalangan kolektor. Kios-kios mereka bisa beromzet jutaan rupiah sebulan.

Maraknya penjualan kaset bekas ini, mungkin karena sekarang ini semakin banyak orang yang sadar untuk mulai mengoleksi kaset-kaset lama baik berisi musik asing maupun Indonesia. Mengapa mereka mengoleksi kaset jadul? Pertama, banyak kaset-kaset lama yang tak lagi diproduksi atau direkam ulang baik dalam bentuk kaset maupun cakram padat (compact-disk). Kalau pun tersedia kaset-kaset rekaman ulang di toko, banyak dari kaset-kaset tersebut yang bukan lagu yang direkam asli pada masanya. Misalnya, lagu-lagu Rhoma Irama. Sebagian besar lagu-lagu Rhoma yang ada di toko adalah hasil rekaman baru, bukan remastered dari master rekaman yang pertama untuk setiap lagu. Perlu diketahui, bahwa setiap lagu yang direkam pada masa tertentu memiliki ciri sound (suara dan nuansa) yang tak tergantikan. Rekaman asli itulah yang dicari orang sekarang.

Kedua, banyak orang yang sekarang mulai suka mengoleksi kaset-kaset yang berupa album, bukan kumpulan lagu-lagu terbaik dari seorang artis, atau kumpulan lagu-lagu dari banyak artis. Koleksi album ini lebih menjamin kepuasan pemiliknya untuk bisa mendengarkan kembali suasana lagu yang kini telah menjadi kenangan. Suasana masa lalu dan kenangan ini tak ternilai harganya. Selain itu kaset album juga berguna untuk kepentingan akurasi dokumentasi seperti yang dilakukan KPMI.

Ketiga, tak bisa dipungkiri bahwa lingkungan, tren, mode, dan gaya hidup mempengaruhi kecenderungan orang untuk mengoleksi kaset-kaset lama. Lihat saja sekarang banyak sekali orang yang menjual masa lalu sebagai komoditas. Di plasa-plasa, ada sejumlah restoran yang menjual makanan daerah sembari menghadirkan suasana masa lalu sebagai daya tarik. Suasana itu terbangun melalui musik-musik jadul yang diperdengarkan, perabot-perabot jadul yang dipakai, barang-barang jadul seperti mesin ketik, radio, kalender, lukisan-lukisan dan lain-lain. Stasiun televisi juga ada yang mulai menyajikan budaya pop masa lalu sebagai tayangan hiburan. Contohnya, Zona 80. Di ranah internet lebih semarak: sejumlah blog menyajikan informasi tentang kaset jadul dan piringan hitam. *

Boks:

Pedagang dan Aktivis Musik Jadul

Bang Omen, 49 tahun, yang bernama asli Abdul Rahman adalah salah satu pedagang kaset jadul yang aktif dalam Komunitas Pecinta Musik Indonesia (KPMI), organisasi kolektor kaset dan piringan hitam musik Indonesia. Bapak dari dua anak ini berbisnis kaset jadul sejak 1990. Sebelumnya dia pernah berwirausaha barang-barang lain, lalu pernah menjadi karyawan sebuah perusahaan penyelenggara acara (event oganizer) Buena Production di Jakarta. Keterlibatannya terakhir di bidang ini pada pergelaran musik Level 42 pada 2003.

Setelah itu lelaki kelahiran Betawi ini kembali ke wirausaha dengan berjualan kaset jadul dan piringan hitam. Pasang surut bisnis ini sudah dia alami. Dulu kiosnya di Taman Puring semi permanen dengan penutup pintu rolling door. Ketika Pasar Taman Puring terbakar beberapa tahun lalu, kios Bang Omen ikut terbakar. Dia terpaksa memulai usahanya lagi dari nol. Lapaknya hanya berupa almari kecil berisi kurang lebih 100 kaset. Kini kiosnya kembali berkibar. Lapaknya berupa ruang 2 x 2 meter di lantai dua Pasar Taman Puring. Jumlah stok kasetnya sekitar seribuan keping, yang terdiri dari 50 persen musik Barat, sisanya musik Indonesia. Stok piringan hitam tak menentu, karena barang ini lebih cepat terjual.

Bang Omen termasuk penjual kaset jadul yang moderat dan bisa berteman. Harga per kaset rata-rata dipatok Rp 10.000,- Harga piringan hitam rata-rata juga segitu. Namun banyak kaset langka dan piringan hitam bersejarah yang terjual dengan harga tinggi. Selama berdagang, kaset yang mencatat rekor dengan harga tertinggi, yaitu kaset album Guruh Gipsy, yang laku Rp 100 ribu. Kaset produksi independen pada 1976 ini pada tahun itu mungkin hanya seharga Rp 2 ribu. Namun karena jumlah produksinya dulu terbatas dan tak diterbitkan ulang dalam format apa pun, akibatnya harga kasetnya melambung. Album Guruh Gipsy, band rock progressif pimpinan Guruh Sukarno Putra ini memang karya masterpiece.

Sedang piringan hitam yang mencatat rekor harga paling tinggi adalah album Mari Bersuka Ria dengan Irama Lenso, produksi perusahaan rekaman Irama, yang laku seharga Rp 500 ribu. Album yang menampilkan antara lain penyanyi Bing Slamet dengan iringan band Jack Lemmers alias Jack Lesmana memang bersejarah. Salah-satu lagunya Genjer-genjer pernah dilarang oleh rezim Orde Baru, karena dikaitkan dengan Peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang melibatkan Partai Komunis Indonesia. Yang juga membuat album ini istimewa, karena sampulnya memuat tulisan tangan dan tanda tangan Bung Karno, mantan Presiden RI pertama.

Omzet bisnis musik jadul Bang Omen ini lumayan. Sebulan uang yang beredar bisa mencapai Rp 5 juta hingga Rp 6 juta. Dari omzet itu, dia paling tidak bisa mengantongi laba bersih minimal Rp 1 juta. Cerah kah masa depan bisnis kaset jadul? Dari sisi jumlah konsumen mungkin ya. Tapi dari sisi pasokan barang, Bang Omen mengaku mulai kesulitan mendapatkan kaset-kaset langka. “Mungkin karena banyak orang yang kini tak menjual kaset lamanya, setelah melihat internet dan televisi,” kata Bang Omen. *

Diterbitkan di: on 15 Februari 2009 at 12:20  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags:

Artikel Sebagai Panggung Kompetensi

(Esai ini sumbangan blog: arahguru.wordpress.com)

Artikel di majalah dan koran bisa menjadi jembatan popularitas dan panggung unjuk kompetensi bagi penulisnya. Sejumlah penulis di media massa, selain kemudian terkenal, juga ada yang menduduki jabatan penting di pemerintahan. Sebut saja Abdurrahman Wahid (mantan Presiden), Andi Rizal Mallarangeng (Juru Bicara Presiden), Juwono Sudarsono (Menteri Pertahanan), Dewi Fortuna Anwar (asisten Wakil Presiden) dan lain-lain.

Fakta itu menunjukkan bahwa artikel di media massa tak bisa diremehkan perannya dalam mendongkrak karir penulisnya. Namun bila ada penulis pemula yang ingin terjun ke bidang penulisan artikel dengan tujuan mencari uang, mereka harus siap-siap gigit jari. Soalnya, bidang penulisan artikel di koran dan majalah tak bisa menjadi ladang uang. Bukan karena honor setiap tulisan kecil, tapi lebih karena frekuensi pemuatan artikel oleh satu penulis di media massa dibatasi oleh redakturnya. Ada media yang membatasi pemuatan artikel oleh satu penulis yang sama, sekali sebulan. Tapi memang tujuan uang ini bisa menggelincirkan penulisnya ke kecenderungan fabrikasi, sesuatu yang dibenci oleh media.

Gampang-gampang sulit

Sulitkah menulis artikel di media massa? Jawabnya gampang-gampang sulit. Kalau dibilang gampang, nyatanya tak semua menteri pernah menjadi penulis artikel di media. Penulisan artikel sebagai salah satu cabang penulisan, seperti dunia tulis menulis pada umumnya, gampang-gampang susah. Maka kalau budayawan Arswendo pernah menulis buku berjudul “Mengarang itu Gampang”, itu jangan diartikan secara harafiah. Judul buku itu diduga hanya untuk mensugesti pembaca bahwa menulis itu gampang, paling tidak menurut Arswendo yang memang telah membuktikan diri sebagai penulis produktif.

Makalah ini tidak ingin mengendurkan semangat para calon penulis untuk menekuni bidang penulisan artikel di media massa, bahwa menulis artikel itu susah. Bukan, bukan itu maksudnya. Tetapi untuk bisa menjadi penulis artikel di media massa memang dibutuhkan perjuangan panjang. Kadang-kadang para redaktur media, karena mereka sudah terkungkung oleh hukum besi media – misalnya mengutamakan penulis terkenal, mereka tidak memberikan kesempatan kepada para penulis pemula. Jadi, kuncinya ya jangan kapok untuk menulis artikel ke media pada fase perintisan. Ada yang mengibaratkan kemampuan menulis seperti kemampuan mengendarai sepeda. Kemampuan itu hanya bisa diperoleh dengan mengalaminya, bukan mempelajari teorinya. Ada juga yang menyamakannya dengan kemampuan berenang. Kalau mau belajar berenang ya silakan masuk ke kolam sembari menuruti tutorial guru renang. Naik sepeda dan berenang mengandung resiko selama proses latihan. Salah-salah sedang latihan sepeda, ketabrak mobil, atau tersungkur di selokan. Berenang juga beresiko. Salah-salah latihan kecebur ke air yang dalam dan bersinggungan dengan maut.

Yang tepat sebetulnya menulis bisa disamakan dengan belajar musik, misalnya piano. Siapa saja bisa memencet tut piano dan menghasilkan bunyi, namun untuk bisa menghasilkan bunyi musik yang berkelas, orang harus belajar teori dan melatih diri dengan tekun. Ini sama dengan menulis. Semua orang juga bisa menulis. Namun untuk bisa menghasilkan tulisan yang enak dibaca dan perlu, orang butuh banyak membaca, sering menulis, dan bahkan meningkatkan mutu pribadi.

Lupakan definisi
Teknik Penulisan Artikel Ilmiah Populer, begitu topik yang diharapkan dibahas di makalah ini. Tapi sebentar, apa perbedaan antara artikel ilmiah populer dan artikel seperti yang dimuat di koran? Secara umum harus diakui bahwa keduanya berpengertian sama. Artikel-artikel yang dimuat di koran umumnya sudah melalui seleksi oleh redakturnya, dan umumnya media menginginkan tulisan yang bermutu. Itu artinya, artikel di koran juga memenuhi syarat-syarat keilmiahan dari masing-masing bidang keilmuan.

Namun kadang koran memang memuat artikel-artikel yang lebih tepat disebut esai. Esai adalah tulisan yang umumnya memakai cara pandang subyektif penulisnya dan ditulis dengan gaya bahasa yang lebih sastrawi. Tulisan semacam ini disebut juga kolom, seperti tulisan Emha Ainun Najib di majalah Tempo edisi 30 September 2007 berjudul “Setan Diborgol, Mestinya Kita Juga”. Jadi, artikel di koran adalah artikel ilmiah populer secara substansi. Sebutan lain untuk artikel semacam adalah komentar (commentaries). Istilah ini dipakai oleh Project Syndicate, situs asosiasi koran sedunia yang berisi artikel opini sekelas peraih Hadiah Nobel. Mungkin karena artikelnya rata-rata pendek (6 ribu karakter) dan mengomentari masalah aktual, jadi digunakanlah istilah komentar.

Di koran Tempo, pernah ada rapat untuk menentukan kriteria pemuatan sebuah artikel. Kriteria yang disepakati: aktual, opini berdasar data, mengandung kebaruan, dan ringkas. Aktualitas masalah bisa dicari tahu dari kepala-kepala berita yang dimuat di berbagai media, atau peristiwa rutin yang berlangsung setiap tahun misalnya peristiwa Ramadan, Hari Buruh, dan lain-lain. Syarat aktualitas merupakan syarat pertama dalam penentuan pemuatan artikel di koran. Baru syarat-syarat berikutnya menyusul.

Syarat lain opini haruslah berdasarkan data dan fakta. Ini ibarat daging yang harus ada dalam sebuah menu makanan. Daging yang segar dan bergizi adalah unsur utama makanan yang bernama artikel. Selain itu opini juga harus memakai teori yang relevan untuk mengupas suatu peristiwa. Nah cara penyajian unsur-unsur utama tersebut bisa diibaratkan cara memasak. Daging boleh kelas nomor wahid, tapi kalau cara masak tidak canggih, ya tak akan menjadi masakan yang berkelas. Termasuk dalam cara masak tersebut adalah kekayaan bahasa, membangun struktur yang dimulai dari pemilihan judul, pembuatan lead, pemaparan masalah (bridging), pembahasan utama (body), dan penutup yang biasanya berisi kesimpulan, solusi atau pertanyaan.

Syarat lain menyangkut ruang pemuatan di media. Tren artikel sekarang tampaknya mengarah ke artikel pendek sepanjang 6 ribu karakter (with space). Situs Project Syndicate salah satu yang menerapkan aturan ini. Koran Tempo yang karena menjadi pionir koran compact (tabloid) menekankan betul aspek keringkasan ini, karena tuntutan zaman yang selalu bergegas. Karakter ringkas ini memaksa penulis artikel juga harus mampu menuangkan gagasannya secara to the point (langsung ke masalah), dalam arti lain pokok-pokok gagasan dan penyelesaian masalah diungkapkan dalam bentuk pointers (poin-poin).

Di luar syarat-syarat internal artikel (unsur dalam artikel), ada syarat-syarat eksternal misalnya menyangkut orisinalitas. Artikel yang dikirim ke media haruslah asli tulisan si penulis, bukan contekan apalagi plagiasi. Penulis yang ketahuan memplagiasi akan dimasukkan dalam daftar hitam oleh media dan akan sulit memperoleh kepercayaan kembali. Hal lain yang harus diperhatikan, penulis tidak sepantasnya mengirimkan satu tulisan ke beberapa media sekaligus. Ini juga menyangkut upaya menjaga kepercayaan.

Cara yang paling praktis untuk belajar menulis artikel sebetulnya cukup dengan mengamati tulisan orang-orang hebat di koran, seperti Indra J. Pilliang, Eep Saefullah Fatah, atau Joseph E. Stiglitz dari Project Syndicate. Amati unsur-unsurnya, pelajari cara memasaknya, tirulah cara mereka menulis, lalu buatlah improvisasi tambahan sendiri. Begitu, latih dan latihlah terus menerus. Jika menulis diibaratkan bermain musik, lihatlah cara berlatih Andre Indrawan. Juara gitar se-Asean ini berlatih gitar selama 8 jam setiap hari sebelum menjadi maestro. Anda, berapa jam sehari kuat untuk menulis? *

Diterbitkan di: on 3 Februari 2009 at 13:01  Komentar (1)  

Q&A Blog untuk Guru

(Artikel ini persembahan dan dukungan blog arahguru.wordpress.com atas kehadiran blog Prime Guide).

*

Apa pengertian blog?

Blog (dari web log) adalah sebuah website di mana masukan (entries) ditulis dalam bentuk kronologis dan umumnya tertayang di layar berurutan secara terbalik. Blog menyajikan komentar atau berita tentang subyek khusus seperti makanan, politik, atau peristiwa lokal; beberapa fungsinya lebih sebagai buku harian online. Umumnya blog merupakan kombinasi antara teks, gambar, juga video, dan bertaut dengan blog lain, situs, lain atau media lain yang topiknya terkait. Kemampuannya untuk menampung komentar dari pembaca dalam bentuk interaktif menjadi bagian penting dari banyak blog.

Keunggulan blog?

Publishable (langsung bisa tayang, tanpa sensor), findable (mudah ditemukan), social network (membuat jaringan sosial), viral (menyebar seperti getok tular tradisional), syndicatable (bisa dikelompokkan), linkable (bisa tersambung ke blog dan situs lain).

Bagaimana mencari penyedia layanan pembuatan blog?

Ada sejumlah penyedia layanan pembuatan blog (disebut blog hosting service) di internet. Mereka antara lain blogger.com, wordpress.com, dan sekarang ada yang dari Indonesia, yaitu dagdigdug.com. Mereka menyediakan software yang siap pakai dan gratis. Cara mengunduhnya pun hanya memerlukan tiga langkah. Yang penting anda memiliki alamat email.

Mengapa guru perlu membuat blog?

Senyampang membuat blog itu gratis dan gampang, maka blog adalah anugerah yang harus disyukuri manusia. Rasa syukur itu bisa diekspresikan dengan cara memanfaatkannya untuk kepentingan sosial. Guru yang membuat blog berarti telah menjadikan dirinya mahluk sosial yang lebih berarti. Bayangkan, misalnya seorang guru sejarah selama setahun mengajar untuk 50 anak. Dengan membuat blog, guru yang meletakkan naskah pelajaran sejarahnya di blog, pelajarannya akan dibaca oleh 3600 orang, bila diandaikan blognya dikunjungi 10 orang setiap harinya selama 360 hari. Artinya, secara kuantitas, ilmu blogger guru sejarah itu berarti untuk orang 72 kali lebih banyak dibandingkan bila ilmunya hanya diajarkan di ruang kelas saja.

Secara kualitatif, pengajaran melalui blog bisa meningkatkan efektivitas dan efisiensi. Mengapa? Karena blog ini peranti canggih yang dilengkapi dengan mesin pencari (search engine), mesin penghubung (linkable), dan peranti lunak untuk menampilkan gambar dan video, dan lain-lain. Guru yang mengajarkan pelajaran agama Islam, misalnya bisa menampilkan satu naskah pendek tentang sejarah Nabi Muhammad yang disambungkan ke entries-entries penting dari Wikipedia. Misalnya, menyebut Mekkah, lalu disambungkan ke entries Mekkah di Wikipedia. Dan lain sebagainya. Pendek kata, mengajar yang dilengkapi dengan blog guru akan lebih efektif, efisien, dan menghibur.

Persiapan sebelum membuat blog?

Secara teknis, Anda hanya memerlukan sebuah alamat email. Kalau belum punya, silakan anda bikin ke Yahoo.com atau Google.Com. Anda hanya harus mengisi formulir berisi pertanyaan data pribadi anda. Semuanya gratis.

Persiapan materinya, ya cukup materi pelajaran yang selama ini Anda geluti dan kuasai saja. Dengan kerangka “blogging mindset”, kita insya Allah akan mengarah dengan sendirinya untuk mendesain isi blog agar semakin hari semakin cerdas.

Tema blog yang bisa ditulis?

Sebetulnya tema blog yang bisa ditulis bisa bebas sekali. Cuma untuk kepentingan efektivitas pengajaran, tentu tema yang sebaiknya dipilih oleh guru sesuai dengan bidang kompetensi masing-masing. Yang harus dipegang teguh dalam hal ini adalah tujuan membuat blog untuk pengajaran, yaitu agar proses transformasi pengetahuan dan nilai berlangsung secara efektif, efisien dan menyehatkan.

Keuntungan memiliki blog guru?

1. Meningkatkan kompetensi. Dengan mengelola blog, guru secara tidak langsung dituntut untuk meningkatkan kompetensi sesuai bidangnya. Malu dong kalau muncul di layar internet yang bisa dibaca orang seluruh dunia eh kelihatan de bodornya.
2. Aktualisasi diri. Dengan mengelola blog, secara psikologis guru terpenuhi salah satu kebutuhan psikologisnya, yaitu aktualisasi diri. Ada perasaan diakui orang lain dengan banyaknya kunjungan dan komentar di blog.
3. Panggung sosial. Ini untuk tak mengatakan bahwa dengan membuat blog, otomatis nama seseorang akan lebih dikenal lebih luas dan lebih populer.
4. Pendapatan tambahan. Banyak blog yang sekarang ini dikabarkan mampu menghasilkan uang dari para pemasang iklan.
5. Transformasi ilmu. Tentu yang diuntungkan adalah para murid yang ingin menguasai ilmu secara lebih efektif, efisien dan menyehatkan. *

Diterbitkan di: on 28 Januari 2009 at 13:18  Komentar (1)  
Tags: ,

Pemandu Utama Ribuan Cara

Prime Guide adalah blog yang menyajikan artikel-artikel tentang cara-cara melakukan sesuatu. Artikel-artikel tersebut bersifat praktis, dan disampaikan dengan bahasa populer. Dalam bahasa Inggris, cara sering diterjemahkan dengan kata “how to”. Contoh, cara merawat piringan hitam, cara memperbaiki kaset, cara menyimpan lukisan, dan lain sebagainya.

Gagasan blog ini berawal dari kenyataan bahwa banyak orang tak bisa melakukan hal-hal remeh dan teknis. Blog ini akan berfungsi untuk membantu Anda menyelesaikan masalah-masalah teknis tersebut. Mengapa Prime Guide? Disebut begitu, karena blog ini diharapkan menjadi pemandu utama Anda dalam menemukan ribuan cara. Selamat membaca.

Tim Prime Guide

Tim Prime Guide

Tim Prime Guide

Diterbitkan di: on 28 Januari 2009 at 12:47  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , ,
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.